KEWASPADAAN ISOLASI MASA PANDEMI COVID-19





KEWASPADAAN ISOLASI MASA PANDEMI COVID-19

(Sebuah Opini terhadap Rasionalitas Penggunaan APD dalam Masa Pandemi COVID-19)

 

Didah Syahidah 2022060377037 Email : didahsy03@gmail.com

 

ABSTRAK

Munculnya varian baru virus COVID-19, menjadikan penggunaan APD telah menjadi faktor krusial dalam menyesuaikan diri dengan perubahan ini. APD membantu melindungi individu dari varian baru yang mungkin memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi atau sifat yang lebih menular. Penggunaan APD bukan hanya sekadar kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga merupakan tanggung jawab sosial untuk melindungi diri sendiri dan orang lain di sekitar kita. Meskipun vaksinasi telah menjadi salah satu pilar utama dalam penanggulangan pandemi ini, penggunaan APD tetap menjadi langkah penting dalam rangkaian strategi untuk mengendalikan penyebaran COVID-19. Sebagai komunitas global, upaya kolaboratif untuk mematuhi penggunaan APD dengan benar akan memainkan peran yang sangat penting dalam mengekang laju penyebaran virus ini dan menjaga kesehatan serta keselamatan bersama, sehingga penggunaan APD yang sesuai dengan kebutuhan (Rasional) sangat diperlukan.

 

Kata Kunci : Covid19, Kewaspadaan Isolasi, Kewaspadaan Standar, APD, Rantai Infeksi

 

 

 

PENDAHULUAN

Kewaspadaan Isolasi dapat diartikan sebagai sebuah upaya pencegahan penularan infeksi terkait layanan kesehatan (HAIs) dan penularan penyakit menular kepada pasien, staf, dan pengunjung. Terdapat dua upaya kewaspadaan isolasi yaitu Kewaspadaan Standar yang merupakan sekelompok praktik pencegahan infeksi yang mencakup kebersihan tangan dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) sarung tangan, sarung pelindung, masker, pelindung mata atau pelindung wajah tergantung pada antisipasi paparan terkait dan Kewaspadaan berbasis transmisi.

Pandemi COVID-19 telah mengubah paradigma kesehatan global secara signifikan. Salah satu aspek yang menjadi fokus utama adalah penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) sebagai bentuk perlindungan diri dan masyarakat terhadap penyebaran virus yang sangat menular ini. Rasionalitas penggunaan APD menjadi esensial dalam upaya menangani pandemi ini, yang tidak hanya melibatkan aspek kesehatan fisik tetapi juga kesejahteraan sosial dan ekonomi.

Salah satu karakteristik utama COVID-19 adalah penyebarannya yang sangat mudah melalui droplet dan udara, dengan menggunakan masker dan APD lainnya, kita dapat meminimalkan peluang penularan melalui kontak langsung maupun droplet yang dihasilkan ketika seseorang batuk atau bersin. Hal ini mengurangi kemungkinan penularan dari individu yang tidak menyadari bahwa mereka adalah pembawa virus.

Penggunaan APD, seperti masker, sarung tangan, dan pakaian pelindung, telah terbukti efektif dalam mengurangi risiko penularan COVID-19. Menerapkan APD dengan benar membantu melindungi individu dari paparan langsung virus, dan pada saat yang sama, mengurangi risiko penyebaran kepada orang lain, sehingga mendukung keselamatan komunitas secara keseluruhan.

Penggunaan APD juga memiliki dampak yang signifikan pada sistem kesehatan. Dengan mengurangi risiko penularan di antara petugas kesehatan dan tenaga layanan publik, APD membantu menjaga kapasitas sistem kesehatan agar tetap beroperasi secara optimal. Ini memastikan bahwa pasien COVID-19 dan non-COVID-19 dapat menerima perawatan yang diperlukan tanpa terlalu banyak tekanan pada sumber daya medis.


RASIONALITAS PENGGUNAAN APD

Munculnya varian baru virus COVID-19, menjadikan penggunaan APD telah menjadi faktor krusial dalam menyesuaikan diri dengan perubahan ini. APD membantu melindungi individu dari varian baru yang mungkin memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi atau sifat yang lebih menular. Penggunaan APD bukan hanya sekadar kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga merupakan tanggung jawab sosial untuk melindungi diri sendiri dan orang lain di sekitar kita. Meskipun vaksinasi telah menjadi salah satu pilar utama dalam penanggulangan pandemi ini, penggunaan APD tetap menjadi langkah penting dalam rangkaian strategi untuk mengendalikan penyebaran COVID-19. Sebagai komunitas global, upaya kolaboratif untuk mematuhi penggunaan APD dengan benar akan memainkan peran yang sangat penting dalam mengekang laju penyebaran virus ini dan menjaga kesehatan serta keselamatan bersama, sehingga penggunaan APD yang sesuai dengan kebutuhan (Rasional) sangat diperlukan.

Dalam kacamata Penulis, terdapat perbedaan antara teori dan pelaksanaan kewaspadaan isolasi pada saat Pandemi COVID-19 sehingga memberikan kesan penggunaan APD yang tidak efektif, beberapa hal yang menjadi sorotan Penulis, yakni:

1.       Penggunaan masker N95 dengan masker bedah kemudian ditutup dengan google dan face shield, yang merupakan Tindakan tidak sesuai dengan konsep penggunaan APD pada kewaspadaan berbasis transmisi. Seperti diketahui, bahwa penyebaran virus COVID-19 adalah melalui transmisi droplet, secara teori pencegahan Transmisi infeksi secara droplet cukup memakai salah satu APD tersebut di yakni cukup dengan memakai masker, baik masker medis biasa atau masker respiratori N95, tanpa harus memakai google atau face shield. Penggunaan google atau face shield hanya pada saat melakukan tindakan pada area saluran pernafasan saja, misalkan pada saat intubasi, pemeliharaan airway pada saat pemasangan ventilator, saat pemberian nebulasi.

2.       Penggunaan Sarung tangan secara berlapis, yang sebenarnya tidak efektif dilakukan, karena pada dasarnya virus tidak akan langsung aktif saat bertemu dengan lapisan kulit kita.

Penyakit ini dapat menyebar melalui tetesan kecil (droplet) dari hidung atau mulut pada saat batuk atau bersin. Kemungkinan akan terjadi pula penyebaran, apabila Droplet tersebut jatuh pada benda di sekitarnya, jika ada orang lain menyentuh benda yang sudah terkontaminasi dengan droplet tersebut, kemudian menyentuh area mulut, hidung dan mata maka akan ada kemungkinan terinfeksi sehingga tindakan hand hygiene akan lebih bermakna dengan baik untuk memutus rantai infeksi yang sedang terjadi.

3.       Penggunaan hazmat yang menutupi seluruh tubuh, sehingga mengurangi keleluasaan pergerakan pada saat tindakn diperlukan.

Penulis beranggapan, bahwa penggunaan Gown sudah mencukupi untuk menutupi area tubuh tenaga Kesehatan yang sedang bertugas.

 

 

Pada dasarnya, Penulis memahami bahwa setiap tindakan yang keluar dari jalur keilmuan merupakan bagian dari kenyataan bahwa Teori Kewaspadaan Isolasi baru pada tatanan pengetahuan dan pemahaman saja, sehingga hal ini menjadi tugas besar bagi HIPPII untuk lebih dapat membumikan praktek- praktek Kewaspadaan Isolasi.

 

Wallahu’alam bishshowab