KEWASPADAAN ISOLASI: KEBERHASILAN PENCEGAHAN INFEKSI MELALUI CUCI TANGAN




KEWASPADAAN ISOLASI:

KEBERHASILAN PENCEGAHAN INFEKSI MELALUI CUCI TANGAN

Dibuat Oleh: Pepi H Putera, S.Kep.,Ners

 

 

A.      PENDAHULUAN

Pada era di mana penyakit menular dapat dengan cepat menyebar, penting bagi kita untuk memahami peran kewaspadaan isolasi dalam pencegahan infeksi. Salah satu praktik yang paling sederhana dan efektif dalam mengurangi risiko infeksi adalah dengan cara mencuci tangan. Tindakan sehari-hari ini, meskipun tampak remeh, memiliki dampak yang luar biasa dalam melindungi kesehatan kita.

 

B.      PEMBAHASAN

Kewaspadaan Isolasi: Sebuah Konsep yang Mendasar

Kewaspadaan isolasi mengacu pada serangkaian tindakan yang ditujukan untuk mencegah penyebaran penyakit menular. Hal ini dapat dilakukan secara individu atau secara kolektif dalam masyarakat. Salah satu aspek paling penting dari kewaspadaan isolasi adalah kebersihan tangan yang baik. Mengapa? Karena tangan merupakan sarana utama yang digunakan untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar, yang juga dapat menjadi media bagi penyebaran berbagai jenis infeksi.

 

Cuci Tangan: Tindakan Sederhana, Dampak Besar

Cuci tangan adalah praktik yang mungkin sering diabaikan, namun memiliki dampak yang signifikan dalam mencegah infeksi. Saat mencuci tangan, kita secara efektif menghilangkan kuman, bakteri, virus, dan kotoran lainnya yang mungkin ada di permukaan tangan. Berdasarkan penelitian, disiplin cuci tangan yang tepat dapat mengurangi risiko infeksi gastrointestinal, pernapasan, dan berbagai penyakit menular lainnya.

 

Langkah-Langkah Efektif dalam Mencuci Tangan

Penting untuk memahami langkah-langkah yang benar dalam mencuci tangan agar dapat memaksimalkan manfaatnya. Kebersihan tangan dilakukan dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir bila tangan jelas kotor atau terkena cairan tubuh, atau menggunakan alkohol (alcohol-based handrubs) bila tangan tidak tampak kotor. Kuku petugas harus selalu bersih dan terpotong pendek, tanpa kuku palsu, tanpa memakai perhiasan cincin.

Adapun indikasi kebersihan tangan atau kapan kita harus melakukan cuci tangan (hand hygiene) yang dikenal dengan lima momen (Five Moment), adalah sebagai berikut:

1.       Sebelum kontak dengan pasien

2.       Sebelum melakukan tindakan aseptik

3.       Setelah kontak darah dan cairan tubuh pasien

4.       Setelah kontak dengan pasien

5.       Setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien


Hal berikutnya yang perlu diketahui tentang cuci tangan adalah langkahnya yang harus benar. Adapun cara kebersihan tangan dengan sabun dan air diadaptasi dari: WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care: First Global Patient Safety Challenge, World Health Organization, 2009 adalah sebagai berikut:

1.       Usap dan gosok kedua telapak tangan secara lembut dengan arah memutar.

2.       Usap dan gosok juga kedua punggung tangan secara bergantian

3.       Gosok sela-sela jari tangan hingga bersih

4.       Bersihkan ujung jari secara bergantian dengan posisi saling mengunci

5.       Gosok dan putar kedua ibu jari secara bergantian

6.       Letakkan ujung jari ke telapak tangan kemudian gosok perlahan CATATAN:

-          Setiap langkah memiliki ritme 4 gosokan dan/atau putaran

-          Untuk mudah mengingatnya maka dibuatkan clue: TePungSelaCiPuPut (telapak, punggung, sela- sela, kunci, putar jempol, putar ujung jari kuku)

-          Waktu yang dibutuhkan: Handrub dilakukan selama 20-30 detik sedangkan handwash 40-60 detik. Untuk mudah menginggatnya maka ingat ROKOK DJI SAM SOE (2,3,4) + 60 artinya 20, 30, 40 & 60 detik.

-          5 kali melakukan handrub sebaiknya diselingi 1 kali handwash.

Hasil yang ingin dicapai dalam kebersihan tangan adalah mencegah agar tidak terjadi infeksi, kolonisasi pada pasien dan mencegah kontaminasi dari pasien ke lingkungan termasuk lingkungan kerja petugas.

 

Mengatasi Tantangan dalam Meningkatkan Kewaspadaan Isolasi Melalui Cuci Tangan

Meskipun penting, meningkatkan kesadaran dan kepatuhan terhadap praktik cuci tangan sering kali dihadapi oleh beberapa tantangan. Beberapa tantangan tersebuta adalah:

1.       Pendidikan dan Kesadaran

Upaya edukasi dan peningkatan kesadaran perlu terus dilakukan untuk meningkatkan pemahaman akan pentingnya cuci tangan dalam mencegah penyakit menular. Rata-rata individu yang memiliki nilai audit kurang dari standar adalah petugas baru yang belum terpapar tentang materi PPI kewaspadaan isolasi cuci tangan.

2.       Peran Teknologi dalam Meningkatkan Kewaspadaan Isolasi

Teknologi juga telah memainkan peran dalam meningkatkan kewaspadaan isolasi. Inovasi seperti sensor otomatis pada keran air dan dispenser sabun dapat membantu memfasilitasi cuci tangan yang lebih mudah dan efisien.

3.       Peran IPCD, IPCN dan IPCLN dalam Mengedukasi, Sosialisasi dan Audit

Kebiassaan mencuci tangan merupakan hal yang perlu ditingkatkan dari segi Awarness (kesadaran diri) dari masing-masing individu, sehingga peran seluruh kalangan harus ikut berperan dalam saling mengingatkan dan membiasakan cuci tangan 6 langkah 5 momen. Hal ini tentunya tidak luput dari peran Komite PPI dalam Mengedukasi, sosialisasi dan audit kepatuhan mencuci tangan.


4.       Pendekatan Berbasis Friendly Partnership

Dengan pendekatan berbasis Friendly Partnership maka kita berbaur dengan petugas dengan komunikasi yang baik dan tidak men-judge sehingga kita bisa mengetahui sifat asli kepatuhan petugas yang akan diaudit dan ketika ada ketidaksesuaian, ditegurpun petugas tidak akan marah karena antara yang di audit dan mengaudit sudah terjalin kedekatan.

5.       Pemberian Reward dan Punishmment

Reward dan Punishment tentunya menjadi hal penting dalam menerapkan kepatuhan pemenuhan kewaspadaan isolasi dengan cara mencuci tangan agar terciptanya keadilan bagi individu yang di audit. Selain terciptanya rasa adil, reward dan punishment juga dappat membangkitkan semangat serta motivasi petugas dalam melaksanakan kepatuhan mencuci tangan.

6.       Membuat Seminar, Pit Stop serta Lomba Tentang Cuci Tangan

Cara ini merupakan pendekatan berbasis sosialisasi, edukasi, evaluasi dan motivasi bagi seluuruh petugas agar meningkatkan kepatuhan kewaspadaan isolasi dengan cara mencuci tangan, tentunya hal ini mempermudah auditor untuk merangkul petugas dalam jumlah yang banyak dan membuat mereka tidak merasa sedang di audit, khususnya ketika peserta berperan aktif dalam lomba tentunya tanpa mereka sadari bahwa mereka wajib menghapal tentang materi cuci tangan dan prakteknya, selain itu juga ketika mereka tampil dan ditayangkan dimedia sosial tentunya hal ini membantu komite PPI dalam menyebarkan ajakan untuk mmencuci tangan.

 

KESIMPULAN

Kewaspadaan isolasi dan praktik cuci tangan yang baik merupakan langkah sederhana namun sangat efektif dalam mencegah penyebaran infeksi. Dengan memperhatikan praktik cuci tangan yang benar, kita dapat menjaga kesehatan diri sendiri dan juga melindungi orang lain di sekitar kita. Selain itu, upaya kolaboratif dari berbagai pihak dalam meningkatkan kesadaran dan fasilitas untuk mencuci tangan dapat memperkuat upaya pencegahan penyakit menular di masyarakat.

 

Kata kunci (keywords): kewaspadaan isolasi, cuci tangan, hand hygiene

 

 

 

Referensi:

Peraturan menteri kesehatan RI nomor 27 tahun 2017 tentang pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan. Jakarta: Kementerian kesehatan RI.

World Health Organization (WHO). 2009. WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care, First Global Patient Safety Challenge, Clean Care Is Safer Care. Geneva: World Health Organization.